Bukan makasih karena udah ada, tapi makasih karena selalu ada.
Ricky jelas menangis tak tahu arah dia mau kemana. Harusnya di perantauannya ini dia banyak cari info di sekitar. Sikap apatisnya banyak merugikan hingga detik dia merengek malam ini.
“Ky? Ricky?!” Suara Gyuvin mengetuk jendela kamar indekosnya terdengar panik. Ricky yang sedari tadi menunduk melipat lutut lantas berdiri menggapai pintu.
Gyuvin berdiri di hadapannya. Satu payung dalam genggaman tangan menjadi sambutan baginya. suara hujan deras dan sambaran petir, ricky melompat kearah Gyuvin dengan gemetar.
“Gapapa, ada gue. sekarang ikut gue dulu, oke?” Ricky mengangguk. Mengikuti gyuvin dari belakang dan menyusuri tangga yang bagian ujungnya sudah terbendung banjir setinggi lutut.
Gyuvin berhenti sejenak. Berbalik pada ricky sembari menatap payungnya bergantian, “lo naik ke punggung gue, bisa?”
Ricky mengangguk. Mengambil alih genggam payung itu dan menaiki punggung gyuvin. Tangannya melingkar di bagian leher sedangkan genggaman sang virgo ada pada kedua bawah paha ricky.
Gyuvin pakai celana pendek, mungkin sengaja karena tahu sekarang banjir. Jadi dia berjalan pelan pelan meninggalkan komplek indekos ricky.
Beberapa orang memperhatikan mereka yang mana orang orang juga tengah riuh ramai membenahi peralatan sendiri yang terendam banjir.